Pages

Friday, October 18, 2019

Cerita Pendek Berjudul Badut Kelas


Badut Kelas

“Aku pikir nama itu, nama perempuan” Kata Resa. Resa hanya  terpaku pada pada papan tulis yang ditulis dengan nama-nama pengurus kelas, tanpa melihat orangnya. Resa yang bernama lengkap Arresa Kirana adalah sekretaris kelas yang dipilih setelah mos berlangsung. Artinya, saat itu Resa telah sah menjadi siswa kelas 1 SMA.
Syifa, teman sekelasnya yang terpilih sebagai seksi keamanan yang Resa pikir adalah seorang perempuan. Nyatanya, Syifa yang bernama panjang Syifaro Pratama adalah seorang laki-laki. Ketika tau dirinya dikira perempuan, Syifa langsung menghampiri dan melabrak Resa yang terlihat tak peduli sama sekali.
Resa adalah orang yang berpikiran santai dan bersikap bodoamat ketika dirinya merasa benar tak bersalah. Apalagi hanya karena masalah sepele seperti itu yang karena salah perkiraan antara nama dengan jenis kelamin saja, itu makin membuatnya tak peduli. “Woi, lu pikir gue ini makhluk tak kasat mata apa ya! Sampai daritadi gue banyak ngomong tapi ga lu hirauin coba.” sesal Syifa. “Oh, jadi lo itu badut kelas ya.” Kata Resa tak peduli. Syifa hanya mendengus dan pergi begitu saja bersikap tak peduli juga dengan perkataan Resa  dan juga meninggalkan perasaan kesal.
Saat itu Resa sedang berbincang-bincang bersama teman sebangkunya Naya, namun temannya  itu malah membahas tentang Syifa yang menurutnya tak penting sama sekali. “Gue males ya ngomongin dia, maap aja.” Celetuk Resa. Ia pun berpaling dari teman sebangkunya itu dan mengalihkan pandangannya pada ponselnya. “Lu suka kan sama Syifa, Sa?” Tanya Naya. “Gue gamau denger lagi tentang dia, titik! Cuma karena gue salah ngira dia sebagai cewe aja  sampe begitunya. Lebay tau ga!” kata Resa. “Lu yang lebay kali Sa, lu juga sih kenapa responnya gitu coba, tinggal bilang iya atau ngga aja susah amat.” Kata Naya. Resa terlihat ingin melakukan pembelaan terhadap dirinya, tetapi akhirnya ia hanya mendengus kesal juga bersikap tak peduli dan kembali mengalihkan perhatiannya pada ponselnya.
 Kian hari tampaknya Resa selalu dibuat  kesal saat melihat sosok Syifa yang ternyata selalu mengganggunya dan meledeknya sejak kejadian saat itu. Ketika ia membicarakan itu dan berniat mencurahkan isi hatinya kepada Naya teman sebangkunya, ia malah dikira menyukai Syifa dan terlanjur dibuat kesal dulu sebelum ia mengatakan sesuatu dengan jujur. Nyatanya di dalam hati terdalamnya, Resa memang memiliki sedikit perasaan terhadap Syifa.
Esok harinya, Resa terlihat di balik pintu dan Syifa datang dengan tak terduga sehingga membuat Resa kaget. Mereka saling pandang dan akhirnya membuang muka satu sama lain. “Dasar lu ya badut kelas” umpat Resa. “Gue juga kaget yelah” sarkas Syifa. Mereka saling berpaling tak peduli lagi dengan keadaan.
Di dalam kelas saat istirahat tiba terlihat suasana gaduh. Rupanya Syifa berbuat onar dengan mengoceh dan membully Resa yang awalnya terlihat tak peduli dengan keadaan di sekitarnya. Nampaknya memang Resa tak pernah peduli lagi dengan apa yang dikatakan Syifa kepadanya. Ia hanya merasa membuang-buang waktu saja jika harus meladeni itu semua. Dan akhirnya Resa hanya berpaling meninggalkan kelas dan pergi ke kantin untuk beristirahat.  
Akhir-akhir ini Naya sering melihat Resa terlihat suka mencuri-curi pandang kepada Syifa. “Lo beneran suka sama Syifa kan Sa?” celetuk Naya. “Gue mau jujur sama lu juga tapi tiap kali gue cerita ke lu, lu sukanya nanya-nanya gitu dulu sih. Ya gue jadi kesel duluan lah Nay.” Jawab Resa. “Ya, gue dengerin sekarang nih, buru!” pinta Naya. Resa pun sangat antusias bercerita tentang perasaannya sambil sesekali melirik kearah Syifa tanpa disadari oleh empunya.
Resa telah mengatakan dengan jujur kepada Naya, jika ia memang memiliki rasa terhadap Syifa. Menurut Resa, Syifa itu sosok yang berhasil membuat warna dalam kehidupannya. Walau ia sebenarnya tak suka akan sikap Syifa yang terus meledek dan menggodanya, tapi hanya dari hal seperti itulah dia dapat dekat dengan Syifa.
 Sampai suatu hari, di sekolah akan diadakan acara pentas seni. Masing-masing kelas diharuskan memberikan perwakilan anggotanya untuk ikut memeriahkan acara pentas seni tersebut. Kelas Resa sepakat untuk menampilkan drama dalam pentas seni tersebut. Mereka berdiskusi untuk siapa saja yang akan menjadi tokoh-tokoh dalam drama tersebut. Entah takdir atau bukan, akhirnya terpilihlah Resa dan Syifa sebagai tokoh utama dalam drama tersebut. Mereka akan menampilkan drama “Cinderella” pada pentas seni nanti. “Gue gamau dan ga akan mau dipasangin sama dia.” Celoteh Resa. Mulutnya berkata seperti itu tapi ia merasakan senang tak terkira di dalam hati. “Sa, lu harus mau yang lain gada yang mau” kata ketua kelas. Resa terlihat tak peduli seraya menatap ponselnya.
“Gue Syifa” pesan terkirim dari Syifa untuk Resa. “Ya” balas Resa pada pesan Syifa. Mereka memutuskan berbagi nomor seumpama jika mereka harus latihan berdua untuk persiapan drama pentas seni nanti.
Latihan untuk pentas senipun akan dimulai, tetapi Resa belum juga datang. Syifa yang sudah terlebih dahulu hadir di ruangan kelas merasa resah, karena daritadi teman-teman sudah terlalu banyak bicara menyalahkan keberadaan Resa yang belum juga datang. Akhirnya Syifa pun mengirimkan pesan teks pada Resa. “Lu dimana woi?” Pesan Syifa. “Ga ada yang nganterin, males gue.” Balas Resa. “Gue jemput ke rumah lu ya, tunggu!” Pesan Syifa. Di depan layar, Resa hanya menatap ponselnya lama tanpa berkedip sedikitpun. Ia merasa sangat senang sekaligus jantungnya berdebar-debar karena baru kali ini ada laki-laki yang akan menjemputnya ke rumahnya.
Sampai depan rumah Resa, Syifa langsung memberhentikan motornya dan melihat Resa sudah berdiri di depannya. “Makasih” Kata Resa. “Cepet naik! Semua dah pada sewot gara-gara lo belum datang juga daritadi tau. Kalo misal lo gada yang nganterin napa lo ga kirim pesan ke siapa-siapa sih? Kan biar ada yang jemput dodol.” Ucap Syifa sudah geregetan. Resa hanya tersenyum menahan dadanya yang berdebar tak karuan.
Sampailah Resa di kelas sendirian karena Syifa harus memarkirkan motornya dan semua orang menyoraki Resa yang datang terlambat. “Gue minta maaf yelah, masih ada waktu jugakan buat latian? Kenapa kalian gapada latian aja duluan tanpa gue kan bisa.” Kata Resa. “Udah yu buru latian” ucap ketua kelas menenangkan kegaduhan. Mereka akhirnya latihan setelah Syifa sudah kembali dari memarkirkan motornya.
Pentas seni dimulai. Semuanya sudah mempersiapkan dirinya masing-masing untuk tampil kecuali Resa. Ketika melihat suasana yang kacau karena Resa belum datang juga, Syifa berinisiatif menjemput Resa ke rumahnya. Resa pun dijemput Syifa tanpa ada obrolan apapun dalam perjalanan. Kelas Resa tampil dibagian inti acara. Setelah semua selesai, Resa duduk di bangku kelasnya. Saat itu juga Syifa menghampiri. “Gue gamau tau kalo alesan lo telat ke sekolah karena gada yang jemput. Lo bisa manfaatin gue, gue mau kok ngejemput lu!” celoteh Syifa sembari sedikit membentak. Resa tak bisa lagi menahan air mata yang sedari tadi ia tahan. Resa menangis sejadi-jadinya. Kekanakan memang, tapi itulah marahnya sosok Resa saat perasaannya tak tersampaikan.
Hingga perasaan bersalah muncul dalam benak Syifa dan segera meminta maaf kepada Resa. Resa hanya diam tak bergeming. Namun Syifa mengalihkan pembicaraan dengan bertanya alasan kenapa Resa menyebutnya badut kelas. “Gue minta maaf yang sebesar-besarnya” kata Resa sesenggukan. “Badut kelas itu, mewarnai hari-hariku” lanjut Resa. Syifa memandang Resa, merekapun saling berpandangan dan melemparkan senyuman satu sama lainnya. Resa telah menyatakan perasaannya.

0 comments:

Post a Comment